Tujuan Masa Depan

Saat masih kecil, saya amat ingin menjadi seorang dokter. Karena menurut saya menjadi seorang dokter adalah pekerjaan yang mulia. Dapat menyembuhkan seseorang yang sedang sakit dan dapat melihat kembali senyumnya beserta keluarganya. Membayangkan hal itu saja sudah membuatku senang. Ditambah lagi dulu kakek saya meninggal karena terkena penyakit batu ginjal dan ibu saya juga penah terkena penyakit yang sama dengan kakek saya, untungnya ibu saya bisa kembali sehat dan sembuh total. Dari situ tumbuhlah semangat saya untuk mengejar cita-cita saya yang ingin menjadi seorang dokter itu suatu saat nanti.

Tahun berganti tahun, tak terasa saya sudah meranjak remaja. Keinginan untuk menjadi seorang dokter pun luntur dari hati saya. Saya ragu ingin menjadi dokter, saya ragu karena melihat daya saing untuk masuk pendidikan kedokteran sangatlah ketat. Dan saya tidak terlalu pandai dalam menghafal pada pelajaran Biologi, terlebih lagi apabila saya ambil kedokteran lewat jalur mandiri biayanya sangat mahal. Saya tidak bisa membebankan kedua orang tua saya dengan tanggungan biaya kuliah saya. Adik-adik saya yang perlu disekolahkan juga masih tiga orang, tentu itu bukan uang yang sedikit untuk menyekolahkan empat orang anak sekaligus. Ya, saya juga bukan dari keluarga yang kaya raya.

Bergantilah cita-cita saya dari yang ingin menjadi dokter ke penambang sukses. Saya sangat yakin dengan keputusan saya ini. Saya yakin  karena apabila diliat dari nilai mata pelajaran Matematika dan Fisika saya lumayan tinggi di sekolah. Sampai saya SNMPTN mengambil Teknik Pertambangan Universitas Sriwijaya pada pilihan pertama dan Farmasi UNSRI di pilihan kedua, selanjutnya Farmasi ITERA pada pilihan ketiga. Tapi sayangnya, tidak ada satu pun dari pilihan yang saya pilih itu lolos dan berhasil. Alhasil saya mengambiljalur SBMPTN.

Harapan saya sudah hilang, dan semangat saya ingin masuk pertambangan pun hilang. Saya sudah tidak memikirkan apa-apa lagi saat itu, yang saya pikirkan hanyalah bagaimana cara saya masuk PTN. Akhirnya saat SBMPTN saya memilih ITERA semua pada pilihan satu, dua, dan tiga. Pilihan pertama saya memilih Prodi Farmasi, kedua Teknik Industri, dan yang ketiga adalah Teknik Arsitektur. Saya pilih ketiga itu karena pelung masuknya besar. Dan Alhamdulillah saya diterima di ITERA pada Prodi Industri.

Saya juga sempat berpikir untuk masuk ikatan dinas STAN. Karena saya pikir sekolah di STAN itu sebentar dan setelah lulus langsung dapat penempatan untuk bekerja. Sayangnya, nasib juga belum berpihak kepada saya. Mungkin ini memang jalan Allah yang terbaik untuk saya. Saya bersyukur dapat masuk di ITERA dan ITERA mau menerima saya.

Rencana saya setelah lulus S-1 di ITERA, saya akan melanjutkan pendidikan S-2 saya di ITB mengambil jurusan Teknik Industri juga. Setelah lulus S-2 saya ingin menjadi dosen di ITERA. Saya ingin membangun ITERA dan menjadi keluarga besar ITERA. Setelah saya sukses menjadi dosen, saya ingin memberangkat haji kedua orang tua saya dan bisa menyekolahkan adik-adik saya.

Intinya untuk saat ini cita-cita saya adalah membahagiakan orang tua saya dan meringankan beban kedua orang tua saya. Setelah itu, barulah saya menikah dengan wanita pilihan saya yang cocok dengan saya dan keluarga saya. Saya juga ingin menjadi ayah dan suami yang baik untuk anak dan istri saya nanti.

"Tidak ada yang namanya keberuntungan, yang ada hanyalah peluang" jika kamu ingin menjadi pilot maka daftarlah. Walaupun kamu tahu peluangmu untuk menjadi pilot sangatlah kecil setidaknya masih ada peluang untuk kamu menjadi seorang pilot. Daripada kamu tidak mendaftar sama sekali, peluangmu menjadi pilot adalah 0%



-There is no best way, but there is always a better way-

Komentar

Postingan Populer